Bangsawan China pria pada masa Dinasti Zhou Timur mengonsumsi jawawut sebagai makanan pokok, dengan asupan daging yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan korban persembahan dan rakyat jelata pada masanya.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim arkeolog China menyelidiki kehidupan para bangsawan dari Negara Qin pada masa
Dinasti Zhou Timur (1050–221 SM), yang memberikan wawasan baru mengenai hierarki sosial, kebiasaan pola makan, dan integrasi budaya China kuno.
Rincian studi tersebut telah dipublikasikan di Heritage Science, sebuah jurnal internasional. Studi ini dilakukan oleh sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh lektor kepala Shang Xue di Universitas Akademi Ilmu Pengetahuan China, melalui kolaborasi dengan Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata, Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan Akademi Arkeologi Shaanxi.
Tim peneliti tersebut menyelidiki dua makam bangsawan, yaitu satu makam bangsawan pria dan satu makam bangsawan wanita, serta
tempat pemakaman dua korban persembahan pendamping di Provinsi Shaanxi, China barat laut. Para peneliti menggunakan teknik-teknik canggih, seperti analisis isotop stabil berpresisi tinggi dan pemeriksaan butiran pati pada kalkulus gigi.
Studi ini mengungkapkan bahwa bangsawan pria tersebut mengonsumsi jawawut sebagai makanan pokok, dengan asupan daging yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan korban persembahan dan rakyat jelata pada masanya. Hal ini menguatkan pemahaman kita saat ini tentang hierarki sosial China kuno, yakni yang memakan daging adalah para bangsawan.
Di sisi lain, bangsawan wanita memiliki pola makan yang unik. Dia mengonsumsi lebih banyak makanan berbahan dasar gandum atau beras selama masa kecilnya, namun beradaptasi dengan pola makan lokal yang didominasi oleh jawawut di masa dewasanya sembari mempertahankan tingkat konsumsi daging yang relatif rendah.
Analisis menunjukkan bahwa bangsawan wanita tersebut menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang lebih hangat dan lembap. Para peneliti menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar adalah seorang pengantin wanita bangsawan dari sebuah negara feodal di China timur atau selatan, sebuah contoh dari pernikahan politik yang menjadi ciri khas Periode Musim Semi dan Musim Gugur.
Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa anak-anak bangsawan Qin disapih pada usia 3 tahun, yang konsisten dengan catatan dalam kitab klasik China kuno, ‘Kitab Ritus’ (Book of Rites). Sebaliknya, korban persembahan disapih jauh lebih awal, yang mencerminkan adanya perbedaan berdasarkan status.
Selain itu, perubahan pola makan selama masa remaja selaras dengan peran sosial. Bangsawan laki-laki memiliki tingkat konsumsi daging tinggi yang fluktuatif ketika mereka mendekati usia wajib militer, yang mungkin berkaitan dengan kegiatan bela diri. Sementara itu, bangsawan wanita beralih ke pola makan lokal setelah usia 7 tahun.
Penelitian ini tidak hanya menguak kondisi sosiokultural di balik konsumsi makanan di era China kuno, tetapi juga menyediakan metodologi inovatif untuk mengeksplorasi perjalanan hidup individu dalam sejarah panjang China, ungkap Shang.
Laporan: Redaksi