Jumlah pengusaha Muslim di Indonesia yang saat ini masih sangat kecil, berkebalikan dengan sejarah yang mencatat Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Indonesia memiliki lebih dari 280 juta jiwa penduduk, dengan sekitar 80 persen di antaranya adalah kaum Muslimin.
“Namun, jumlah Muslim yang menjadi pengusaha masih sangat kecil, yakni tidak lebih dari 4 persen. Angka itu jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju yang memiliki 10–12 persen pengusaha dari total populasi,” ungkap CEO dan pendiri grup bisnis, Madinah Group Indonesia, Deni Darmawan, saat menyampaikan materi motivasi berjudul 'Mahabbah Marketing Mindset' pada acara
Kopi Darat (Kopdar) Bisnis Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Korwil Bogor, di Bogor, Sabtu (30/8).
Menurut dia, jumlah pengusaha Muslim di Indonesia yang saat ini masih sangat kecil, berkebalikan dengan sejarah yang mencatat Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan.
“Orientasi sebagian besar masyarakat Indonesia justru condong menjadi pegawai negeri atau karyawan. Sementara itu, hampir 58 persen perekonomian nasional dikuasai oleh konglomerasi besar, baik di sektor formal maupun informal,” ujar Deni, seraya menambahkan, akibatnya, Indonesia kerap hanya menjadi target pasar ekonomi global, serta terjebak menjadi konsumen, penonton, bahkan
captive market (pasar yang mudah dikuasai).
“Karena itu, Umat Islam harus didorong untuk melakukan ‘jihad ekonomi’ melalui peningkatan pengetahuan dan pembinaan,” seru Deni.
Jihad berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘berjuang atau berusaha keras’. Dalam konteks Islam, jihad memiliki makna yang luas dan tidak selalu identik dengan kekerasan atau perang, tetapi lebih umum dipahami sebagai upaya yang giat dan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan di jalan Allah (ﷻ).
Dalam kesempatan itu, Deni yang memiliki beberapa bidang usaha tersebut memaparkan beberapa langkah kunci dalam membangun dan menguatkan bisnis, sehingga bisa tumbuh dan berkembang, serta berkelanjutan.
“Ada empat hal yang perlu diperbaiki dalam dunia usaha, yakni kualitas produk, pelayanan dan kepuasan pelanggan, kemampuan manajemen, serta akhlak bisnis,” tuturnya.
Deni menunjukkan data yang menyebutkan bahwa 60 persen pelanggan meninggalkan pengusaha atau pedagang bukan karena harga produk yang tidak kompetitif, melainkan karena buruknya layanan.
“Hubungan baik dengan pelanggan menjadi kunci utama. Harga hanyalah faktor sekunder,” tegasnya.
Agar tidak sekadar menjadi konsumen, kata Deni, Umat Islam harus membangun ekosistem bisnis dengan orientasi pada kepuasan pelanggan, bukan hanya keuntungan.
“
Digital marketing perlu dimanfaatkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dan setiap transaksi muamalah harus dijaga agar tidak menimbulkan kekecewaan bagi pelanggan,” tutur Deni.
Teladan Rasulullah (ﷺ) yang mengedepankan budi pekerti dan akhlak mulia dalam berdagang harus dijadikan dasar. Dengan begitu, kata Deni, Umat Islam tidak hanya bisa bersaing di pasar domestik, tetapi juga mampu berkontribusi di panggung ekonomi halal dunia.
Acara Kopdar Bisnis KPMI Korwil Bogor dihadiri oleh puluhan pengusaha Muslim dari wilayah Bogor dan sekitarnya. Mereka bergerak di berbagai bidang usaha, seperti makanan dan minuman, produk herbal dan kecantikan, jasa perizinan dan legalitas usaha, jual beli dan jasa perbaikan
laptop dan telepon seluler, serta jasa media sosial dan media massa.
Laporan: Redaksi