Kamboja mencatat sekitar 20.000 kasus baru kanker dengan hampir 14.000 kematian setiap tahunnya, tergolong tinggi jika dibandingkan dengan populasi negara tersebut yang berjumlah 17 juta jiwa.
Phnom Penh, Kamboja (Xinhua/Indonesia Window) – Kamboja mencatat sekitar 20.000 kasus baru
kanker dengan hampir 14.000 kematian setiap tahunnya, kata Perdana Menteri Kamboja (PM) Hun Manet di Phnom Penh pada Senin (5/5).
"Jumlah ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan populasi negara kita yang berjumlah 17 juta jiwa," ujarnya dalam pidato saat peluncuran Rencana Pengendalian Kanker Nasional 2025-2030.
Rencana tersebut dirancang untuk mengurangi jumlah kasus baru dan kematian akibat kanker, katanya, seraya menambahkan bahwa program ini akan meningkatkan akses terhadap pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan, dan perawatan kanker yang berkualitas.
Sang PM mengatakan untuk mengurangi risiko kanker, masyarakat perlu memperhatikan pola makan seimbang yang kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein, serta rutin melakukan aktivitas fisik.
Dia juga mengimbau pihak-pihak terkait untuk secara rutin memeriksa keamanan dan kualitas makanan, buah, dan sayuran guna mencegah kontaminasi bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker.
Menteri Kesehatan Kamboja Chheang Ra mengatakan kanker hati menjadi jenis kanker yang paling umum di kalangan masyarakat Kamboja, diikuti oleh
kanker paru-paru, payudara, kolorektal, dan serviks.
"Sekitar 38 orang meninggal karena kanker setiap harinya di Kamboja," katanya.
Di negara Asia Tenggara tersebut, Rumah Sakit Luong Me, yang terletak di pinggiran barat daya Phnom Penh, merupakan fasilitas terbesar yang khusus menangani pengobatan dan perawatan kanker.
Laporan: Redaksi