Qatar menghadapi panas ekstrem, curah hujan yang minim, dan lahan pertanian yang sangat terbatas, namun produksi kurma terus meningkat.
Doha, Qatar (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah teriknya musim panas yang membakar jalan-jalan di Doha, sebuah alun-alun beratap dan berpendingin udara, salah satu
landmark warisan tertua Doha, tidak hanya menawarkan perlindungan dari terik matahari, tetapi juga memberikan gambaran tentang transformasi sektor pertanian Qatar.
Di bawah tenda Festival Kurma Lokal ke-10, barisan rutab (
kurma segar yang baru dipanen) tertata tinggi, memamerkan kemajuan pertanian lokal. Berlangsung dari 24 Juli hingga 7 Agustus dan menampilkan 116 perkebunan dari seluruh negara itu, festival tahunan ini mencerminkan pertumbuhan pesat ajang ini sejak edisi pertamanya digelar pada 2016, yang hanya diikuti oleh 19 peserta.
"Festival ini benar-benar telah menjadi tradisi tahunan," ujar Adel Zain Alkaldi Alyafei, asisten direktur Departemen Urusan Pertanian di Kementerian Pemerintahan Lokal di Qatar.
Dia menyoroti antusiasme warga dan penduduk Qatar yang selalu menantikan festival tersebut.
"Bahkan pada Juni, orang-orang sudah mulai bertanya: Kapan festival rutab digelar?" tambahnya.
Orang-orang memilih buah kurma dalam sebuah festival kurma lokal di pasar Souq Waqif di Doha, Qatar, pada 24 Juli 2025. (Xinhua/Nikku)
Total penjualan dari edisi tahun lalu melampaui 240 ton, hampir 10 kali lipat dari
output saat acara itu pertama kali dimulai. Hal ini menunjukkan transformasi pertanian yang lebih luas di Qatar, terutama dalam produksi rutab.
Pencapaian ini sangat mengesankan mengingat geografis Qatar yang menantang. Terletak di zona gurun tropis, Qatar menghadapi panas ekstrem, curah hujan yang minim, dan lahan pertanian yang sangat terbatas.
Menurut Kementerian Pemerintahan Lokal, Qatar kini memenuhi lebih dari 75 persen kebutuhan kurma domestiknya melalui produksi lokal, sebuah tonggak penting dalam upayanya untuk mencapai ketahanan pangan dan swasembada.
Kunci dari perubahan ini adalah dukungan pemerintah yang berkelanjutan. Pihak kementerian menyediakan berbagai input pertanian seperti pupuk dan izin pengendalian hama, serta layanan logistik. Saluran pemasaran eksklusif seperti festival kurma lokal juga sangat penting, karena memungkinkan petani menjual langsung produknya kepada konsumen.
Seorang pria memilih buah kurma dalam festival kurma lokal di pasar Souq Waqif di Doha, Qatar, pada 24 Juli 2025. (Xinhua/Nikku)
"Festival ini dianggap sebagai sebuah
outlet pemasaran bagi para pemilik kebun untuk menjual produk lokal mereka tanpa adanya persaingan," kata Alyafei. "Semua yang ada di dalam tenda ini adalah hasil produksi lokal."
Bagi banyak orang, terutama di negara-negara Arab, kurma lebih dari sekadar buah musim panas karena nilai gizinya yang tinggi, kaya akan serat, kalium, dan antioksidan, serta memiliki makna budaya dan agama yang mendalam bagi Umat Muslim. Kurma sangat disukai terutama selama bulan Ramadhan karena secara tradisional dikonsumsi untuk berbuka puasa,
sering kali dinikmati bersama dengan air atau susu.
Foto ini menunjukkan suasana festival kurma lokal di pasar Souq Waqif di Doha, Qatar, pada 24 Juli 2025. (Xinhua/Nikku)
Para pengunjung festival memuji variasi dan kualitas produk yang ditawarkan. "Kami mencicipi dan membeli semua jenis yang tersedia di pameran ini. Kami menyukai semuanya, dan kami menyarankan semua orang di Qatar untuk datang berkunjung," kata sebuah keluarga asal India."
Pengunjung lain, Ahmed Al-Masri, menambahkan, "Saya dan keluarga saya menantikan festival rutab ini setiap tahun. Kami membeli untuk diri kami sendiri dan juga mengirimkannya kepada keluarga. Kami lebih menyukai kurma lokal Qatar karena selalu segar dan manis."
Festival ini juga sejalan dengan Strategi Ketahanan Pangan Nasional Qatar 2030, yang bertujuan untuk mendorong pertanian berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada impor, dan memperkuat sistem pangan lokal.
Laporan: Redaksi