Terapi hormon untuk adenomiosis saat ini memiliki efek samping serius seperti penekanan kesuburan serta osteoporosis.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan China telah berhasil mengidentifikasi target kunci dalam pengobatan adenomiosis, suatu kondisi yang dialami puluhan juta wanita dalam rentang usia reproduktif di seluruh dunia, memberikan harapan akan opsi terapeutik yang lebih aman dan efektif.
Adenomiosis adalah kondisi ginekologi umum yang ditandai oleh pertumbuhan jaringan endometrium di dalam lapisan otot rahim. Gejala klinis utamanya meliputi dismenorea atau nyeri haid, menoragia atau pendarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul kronis, dan infertilitas.
Saat ini, terapi hormon yang menyasar sinyal estrogen dan progesteron lazim digunakan untuk mengobati penyakit ini. Meskipun dapat meredakan gejala, terapi ini juga memiliki efek samping serius seperti
penekanan kesuburan serta osteoporosis. Karena patogenesis adenomiosis belum jelas, tidak ada target terapeutik baru yang berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan selama empat dekade terakhir, yang sangat membatasi pengembangan obat baru.
Ilmuwan China telah mengidentifikasi reseptor prolaktin sebagai target kunci yang memicu adenomiosis. Untuk pertama kalinya, mereka menunjukkan bahwa aktivasi abnormal sinyal prolaktin berkaitan langsung dengan adenomiosis, dan memverifikasi potensi obat antibodi monoklonal yang menyasar reseptor prolaktin untuk pengobatan penyakit ini.
Studi ini dilakukan bersama oleh tim riset dari Universitas Peking (Peking University/PKU) yang dipimpin oleh Xiao Ruiping dan Hu Xinli, bersama tim Zhu Lan dari Peking Union Medical College Hospital. Temuan mereka dipublikasikan dalam jurnal akademik internasional Signal Transduction and Targeted Therapy.
Prolaktin adalah hormon yang mendorong perkembangan kelenjar susu dan laktasi. Reseptor prolaktin adalah protein yang terletak pada membran sel. Sinyal prolaktin diteruskan ke dalam sel melalui reseptor ini, memicu serangkaian respons seluler.
Para peneliti menemukan bahwa, melalui analisis 13 sampel klinis, sinyal prolaktin aktif secara abnormal pada endometrium dan lesi ektopik pasien. Sinyal ini berperan penting dalam proliferasi sel endometrium ektopik dan fibrosis jaringan rahim, sehingga mempercepat perkembangan penyakit, ujar Hu.
Para peneliti telah menyelesaikan uji klinis fase II untuk obat antibodi HMI-115 guna mengobati endometriosis. Hasil klinis dari 100 lebih pasien menunjukkan keamanan dan efektivitas obat tersebut.
Secara khusus, studi ini mengonfirmasi efektivitas dari tindakan menyasar prolaktin dan reseptornya sebagai pendekatan terapeutik untuk adenomiosis, memperdalam pemahaman tentang patogenesisnya, kata Xiao, dekan College of Future Technology di PKU.
"Obat hormonal konvensional menghambat kehamilan dan tidak ramah terhadap kesuburan," ujarnya. "Kemajuan pengembangan obat yang menyasar reseptor prolaktin tidak hanya akan meringankan rasa sakit pasien, tetapi juga menjanjikan solusi yang sepenuhnya menyelesaikan dilema antara pengobatan dan infertilitas."
Laporan: Redaksi