Dokumen parlementer yang diadopsi oleh Parlemen Arab menyatakan dukungan terhadap tekad teguh rakyat Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka sebagai bentuk penolakan terhadap rencana relokasi dan aneksasi.
Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Ketua Parlemen Arab Mohammed Al-Yamahi pada Sabtu (22/2) mengumumkan jajaran kepala parlemen dan dewan Arab telah mengadopsi "dokumen parlementer" yang akan diserahkan ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab darurat yang dijadwalkan digelar bulan depan di Mesir. Dokumen tersebut menyatakan dukungan terhadap tekad teguh rakyat Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka sebagai bentuk
penolakan terhadap rencana relokasi dan aneksasi.
Pengumuman ini disampaikan dalam pidato Al-Yamahi di Konferensi Parlemen Arab ketujuh untuk Presiden Parlemen dan Dewan Arab. Konferensi tersebut dimulai pada Sabtu di markas besar Sekretariat Jenderal Liga Negara-Negara Arab dan diselenggarakan melalui kerja sama dan koordinasi dengan Persatuan Parlemen Arab. Konferensi tersebut bertujuan meningkatkan peran diplomasi parlementer Arab untuk memperjuangkan kepentingan bangsa Arab.
Al-Yamahi menegaskan dukungan penuh Parlemen Arab terhadap upaya Mesir untuk mempersiapkan visi komprehensif guna membangun kembali Jalur Gaza dengan cara yang menjamin hak tegas rakyat Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka dengan damai.
"Rencana-rencana ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hak tetap dan sah rakyat Palestina, yang telah diakui oleh seluruh dunia, dan juga merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kebijakan negara-negara Arab yang telah mengorbankan semua hal yang berharga dan dicintai demi perjuangan Palestina," tegas Al-Yamahi.
Konferensi tersebut ditutup dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Parlemen Arab dan Uni Parlemen Arab. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat aksi dan koordinasi bersama negara-negara Arab terkait isu-isu regional dan internasional.
Kesepakatan ini mencerminkan peningkatan upaya kerja sama resmi di tengah berbagai tantangan besar yang dihadapi
dunia Arab.
Laporan: Redaksi