Wilayah Parahyangan Timur yang meliputi Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan hidup (living heritage) di Indonesia.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Wilayah Parahyangan Timur yang meliputi Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kawasan yang menyimpan
kekayaan hidup (living heritage) di Indonesia. Berbagai ekspresi budaya, baik benda maupun takbenda, terus diwariskan lintas generasi, menghadirkan identitas budaya yang hidup dan dinamis.
Kegiatan promosi budaya bertajuk ‘Cultural Diversity of Eastern Parahyangan: Heritage for Tomorrow’ resmi berakhir di Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu (2/8). Inisiatif ini merupakan bagian dari agenda Direktorat Jenderal Promosi Diplomasi dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI), yang menggandeng lebih dari 20 jurnalis dan pelaku media dari China, Vietnam, Singapura, serta dari berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian kunjungan dimulai dari Garut, dilanjutkan ke Tasikmalaya, Kampung Naga, Ciamis, Pangandaran, dan diakhiri di Bandung.
"Setiap daerah punya potensi luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita mengenalkannya kembali kepada generasi muda dan membawanya ke panggung global," ujar Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya Anissa Rengganis, yang mewakili Kemenlu dalam kegiatan ini.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra Negara menyampaikan pidato dalam kegiatan promosi budaya bertajuk "Cultural Diversity of Eastern Parahyangan: Heritage for Tomorrow" yang digelar di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, pada 30 Juli 2025. (Xinhua/Li Fuyu)
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra Negara menyampaikan bahwa Tasikmalaya memiliki posisi strategis sebagai kota jasa wisata di wilayah Parahyangan Timur. "Saya ingin sampaikan kepada dunia bahwa Tasik adalah kota paling tepat sebagai pintu masuk jasa wisata di Parahyangan Timur, termasuk wisata event dan kuliner. Ke depan, kami berharap Tasikmalaya juga dikenal melalui wisata pendidikan dan budaya," tegasnya saat menyambut peserta kunjungan.
Program ini membangun narasi kebudayaan yang berpijak pada empat pilar, yakni warisan budaya yang melintasi ruang dan waktu; harmoni antara budaya, alam, dan masa depan; keberlanjutan untuk generasi berikutnya; serta lanskap budaya yang menyehatkan jiwa dan raga.
Berbagai situs budaya, seperti
Candi Cangkuang di Garut dan Situs Karangkamulyan di Ciamis, menjadi simbol spiritualitas dan toleransi. Candi Cangkuang, peninggalan Hindu yang berada di tengah kampung adat Muslim Kampung Pulo, merefleksikan kerukunan hidup antariman di Tatar Sunda. Sementara Karangkamulyan, yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Galuh, masih digunakan sebagai ruang kontemplasi dan edukasi hingga kini.
Kampung adat, seperti Kampung Naga dan Kampung Kuta, juga terus bertahan dengan tatanan hidup tradisional. Arsitektur bambu, sistem kepercayaan lokal, serta kearifan ekologis yang mereka praktikkan menciptakan lanskap budaya yang sejuk dan menyatu dengan alam. "Kami hidup dengan aturan adat yang mengajarkan kesederhanaan dan keseimbangan," ujar salah seorang tokoh adat Kampung Naga kepada peserta kunjungan.
Seorang narasumber sedang menjelaskan sejarah situs budaya Candi Cangkuang yang menjadi simbol spiritualitas dan toleransi di Garut, Provinsi Jawa Barat, pada 29 Juli 2025. (Xinhua/Li Fuyu)
Di sisi lain, ragam wastra dan kuliner lokal memperkaya identitas budaya kawasan. Dari bordir Tasikmalaya, batik Garutan, hingga kain kasang yang menyimpan jejak sejarah; dari nasi tutug oncom hingga jus honje, setiap produk budaya tidak hanya memenuhi kebutuhan harian, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis tradisi.
Pelestarian budaya juga didukung oleh institusi-institusi, seperti Museum Geologi di Bandung yang menjadi rujukan dalam pengembangan museum-museum tematik baru, termasuk Museum Situs Karangkamulyan dan Museum Fosil Tambaksari di Ciamis. Peninggalan masa lalu didokumentasikan dan dikontekstualisasikan agar terus hidup dalam ruang edukatif dan inklusif.
Dimensi kesehatan dan spiritualitas pun menjadi bagian penting dari pendekatan baru pelestarian budaya. Situs Karangkamulyan, misalnya, kini dikembangkan sebagai destinasi kesejahteraan budaya (cultural wellness), dengan lanskap alami dan nilai tradisional yang dipercaya dapat membantu pemulihan jiwa dan raga.
Wilayah Parahyangan Timur menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar kenangan, melainkan sumber daya yang membentuk masa depan. Di tengah derasnya arus globalisasi, kebudayaan memberi arah, daya tahan, dan jati diri. Seperti disampaikan Anissa, "Budaya adalah aset strategis yang harus dihidupkan, bukan hanya dikenang."
Laporan: Redaksi